Kuliah Lagi dan Harus Mengalahkan Ego


Ketika adik saya (yang sekarang hidup di Belanda setelah selesai kuliah di VU Amsterdam University) lulus SMAN IV Surabaya mau masuk kedokteran kemudian saya mengingatkan apakah siap untuk sekolah terus sepanjang karier dan hidupnya. Dan saya berikan gambaran sedikit sekitar dunia dokter, baik karier dan kehidupannya. Akhirnya adik saya mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk masuk di akuntansi Unair.

Apa yang saya sampaikan kepada adik saya memang tidak ada yang saya tutupi. Dan betul apa yang saya sampaikan kemudian saya alami saat ini. Bayangkan, lulus dari SMAN V Surabaya kemudian saya masuk FKUI dan selesai sekitar 6,5 tahun lamanya. Itu baru lulus sebagai dokter. Kebetulan waktu itu belum ada kewajiban untuk internsif bagi dokter umum. Karena PTT tidak wajib juga, kemudian saya berusaha mengambil master ilmu kesehatan di luar negeri.

Setelah mengikuti test IELTS dan mendapat nilai yang cukup, saya apply ke salah satu dari universitas terbaik di Belanda. Dan kemudian saya diterima di University of Twente Belanda dengan beasiswa di program studi ilmu kesehatan. Dengan suka duka menuntut ilmu di negeri orang, pada akhirnya saya lulus tepat waktu.

Pulang dari Belanda dengan mendapatkan master ilmu kesehatan (MSc) saya diminta membantu dosen saya sebagai Project Manager of Nova Nordisk Hemopholia Foundation RSUP Cipto Mangunkusumo/FKUI Jakarta. Kalau pagi bekerja di RSUP Cipto kalau sore sd malam hari saya mencari pengalaman klinis sebagai dokter IGD RS Ridwan Maureksa. Karena untuk masuk ke PPDS Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM salah satu syaratnya harus memiliki pengalaman klinis paling tidak satu tahun. Oleh sebab itulah saya mencari pengalaman klinis dan kebetulan RS tersebut dekat sekali dengan RSUP Cipto. Sekitar lima ratus meter saja, sehingga kalau saya bekerja di IGD tinggal jalan kaki saja.

Satu tahun setelah mendapat pengalaman klinik, kemudian saya diterima sebagai mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM. Dengan segala suka dukanya sebagai mahasiswa PPDS, pada akhirnya selesai juga setelah menempuh pendidikan hampir lima tahun. Agak mundur memang, karena selain saya cuti juga di tengah pendidikan tersebut saya melangsungkan pernikahan di Surabaya.

Kalau dihitung mulai kuliah menjadi dokter umum sekitar 6,5 tahun, kemudian program master di Belanda 1,5 tahun dan spesialis anak selama hampir 5 tahun, maka umur saya habis untuk sekolah saya sampai jenjang spesialis anak (Sp1) memerlukan waktu 13 tahun lamanya. Sekali lagi, hanya untuk sekolah. Tak mengherankan kalau teman-teman saya yang tidak kuliah di kedokteran dan tidak mengambil rute seperti saya ada yang sudah mendapatkan PhD dari berbagai universitas ternama di luar negeri dan juga telah memiliki karier yang bagus. Itulah rute sekolah saya.

Karena saya disumpah sebagai dokter spesialis anak pada bulan Januari 2020 dan awal Maret 2020 COVID-19 dinyatakan masuk di Indonesia, maka saya terpanggil untuk menjadi relawan di RSUD Provinsi Banten. Satu setengah tahun sebagai relawan, dan penangan COVID-19 sudah semakin baik maka pada tahun 2021 kebetulan ada penerimaan CPNS dan saya akhirnya diterima sebagai CPNS di Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Takdir Tuhan saya ditempatkan di RSUD dr. Soedono rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jatim yang berada di Madiun. Kebetulan dekat sekali dengan tempat kelahiran saya, Maospati Magetan.

Mengalahkan Ego

Ketika menempuh pendidikan spesialis saya sebenarnya tertarik sekali menangani bayi-bayi kritis khususnya bayi baru lahir dan prematur. Rasanya sangat menantang sekali. Apalagi setelah kasus-kasus sulit awalnya terdiam dalam keheningan untuk menyelematkan nyawa, kemudian terdengar tangisan dan kebahagian yang akhirnya datang. Rasa lelah seolah sirna ditengah kebahagiaan dari seluruh anggota keluarga dengan kehadiran bayi mungil yang lucu.

Demikian juga tumbuh kembang anak juga tak kalah menarik bagi saya. Dalam relung hati saya pernah terpatri, kelak kalau dimungkinkan sekolah lagi saya akan mengambil subspesialis (Sp2) Neonatologi atau Tumbuh Kembang. Namun ketika saya bekerja sebagai ASN, kenyataan berbicara lain. Ternyata organisasi tempat saya bernaung lebih membutuhkan profesi lain dibandingkan dengan keinginan saya.

Wajar kalau terjadi pergolakan di dalam batin saya. Namun saya harus menyadari bahwa kebutuhan lembaga harus didahulukan. Apalagi sumpah saya sebagai PNS dan dokter yang pernah saya ucapkan tentu harus mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan pribadi. Tentu saja alasan itu semua harus menjadi pegangan saya untuk melangkah menentukan masa depan kemudian.

Kesadaran dan membuang ego serta perubahan pilihan itu mulai muncul ketika saya mulai bekerja di RSUD dr. Soedono. Dan setelah membaca beberapa buku rencana strategis (Renstra) bahwa ternyata RSUD Soedono telah menyiapkan Pelayanan Onkologi Terpadu. Bahkan segala sesuatu telah disiapkan. Termasuk rencana pembangunan gedung yang bertempat di Jl Bali serta fasilitas penunjang lainnya.

Dan yang sungguh penting dalam penyiapan Pelayanan Onkologi Terpadu tentu adalah sumber daya manusianya (SDM). Dan kita semua tahu. SDM ini tidak bisa disiapkan secara instan. Kalau kita memiliki dana, langsung beli atau membangun gedung misalnya. Tetapi kalau untuk mempersiapkan SDM memerlukan waktu, karena memerlukan proses yang cukup panjang dan lama tentunya. Tentu harus disiapkan secara matang.

Tak mengherankan kalau kemudian jumlah konsultan onkologi di RSUD Soedono belum lengkap guna memenuhi standart pelayanan onkologi. Salah satunya yang belum ada adalah konsultan hematologi onkologi anak. Melihat kondisi itulah saya langsung berubah haluan dalam menentukan pendidikan masa depan saya. Persiapan untuk masuk ke hematologi onkologi anak langsung saya persiapan. Persiapan saya lakukan dengan intens di samping tetap bekerja dalam penanganan penyakit anak yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya di RSUD Soedono Madiun.

Beruntungnya, saya selama lebih dari setahun juga telah bekerja (setelah pulang mendapat master dari Belanda) di bagian Hematologi Onkologi Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM. Tentu saja selama bekerja saya mendapat banyak pengalaman dan akses untuk belajar lagi setelah selesai mengambil spesialis anak nantinya. Apalagi saya juga pernah menjadi manager hemopholia centre tentu saja tidak asing dengan persoalan penyakit ini. Oleh sebab itu ketika jajaran direksi RSUD Soedono menyampaikan kalau saya nanti akan mengambil konsultan (Sp2) disarankan agar mengambil hematologi onkologi, langsung saja saya mengatakan siap.

Dulu untuk masuk Sp2 khsusunya, tidak seperti dulu yang cukup dengan surat tugas dari lembaga. Namun sekarang ini untuk masuk mengikuti pendidikan ini juga melalui serangkaian test sebagaimana bila mau masuk pendidikan spesialis. Malahan untuk tahun mendatang masuk studi spesialis dan subspesialis juga akan dilaksanakan serentak secara nasional seperti (SNBT).

Tentu saja sampai dengan saat ini, masing-masing universitas menyelenggarakan secara sendiri-sendiri. Wajar kalau kemudian setiap universitas penyelenggara pendidikan spesialis dan subspesialis masing-masing berbeda-beda syaratnya. Namun syarat umum, pada umumnya sama dan seragam. Seperti harus lulus kemampuan bahasa Inggris. Potensi Akademik, materi keahlian, rekomendasi dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi dll.

Seperti diketahui penyakit kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia. Dan di Indonesia sendiri angka kematian akibat penyakit ini juga masing sangat tinggi. Di RSUD dr Soedono sendiri penyakit kanker telah masuk 10 besar akibat kematian. Tak mengherankan bila pemerintah sendiri dalam kebijakan penyiapan SDM kesehatan salah satu yang menjadi perhatian adalah peningkatan kualitas dan kuantitas SDM bidang penyakit kanker.

Saya selama bekerja sering membayangkan betapa tidak beruntungnya masyarakat yang tinggal di Eks Karesidenan Madiun, sebagian Kediri dan Bojonegoro bila buah hatinya mendapat cobaan penyakit hematologi onkologi. Hanya karena tiadanya pelayanan sehingga harus dirujuk ke Solo, Yogyakarta, Malang atau Surabaya. Tak mengherankan bila tingginya kematian selain terlambat deteksi dini juga pengobatannya yang kurang optimal.

Tentu saja persoalan ini bisa dimengerti, pengobatan penyakit ini memerlukan waktu yang lama dan panjang. Dan tentu saja juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai contoh kasus yang baik dialami putri tunggal dari artis Denada yang kebetulan juga terkena penyakit ini. Yang akhirnya diputuskan untuk dirawat di Singapura. Untuk pengobatan dan perawatan Denada harus menanggalkan profesi artis sebagai sumber kehidupannya dan harus mendampingi secara intens putrinya. Malahan sampai saat ini putri Denada masih sekolah di Singapura. Tentu saja biaya yang dikeluarkan demikian besar. sedang sumber keuangannya juga sudah tidak ada, karena meninggalkan profesinya. Tentu saja Denada terpaksa harus menjual semua harta miliknya. Bahkan menurut pengakuannya Denada harus berhutang pada teman-temannya.

Tentu saja Denada beruntung, masih memiliki dan ada yang bisa dijual serta masih banyak teman-temannya yang bersedia membantu. Bayangkan kalau yang kebetulan mendapat cobaan itu anaknya orang yang tidak mampu. Lantas bagaimana nasibnya. Seperti misalnya yang menimpa masyarakat di eks Karesidenan Madiun, sebagian Kediri dan Bojonegoro tentu akan berakibat fatal. Bagi masyarakat yang punya bisa dibawa dan diobati di Surabaya, Malang, Solo, Jakarta atau Yogyakarta bahkan Singapura seperti Denada misalnya. Lalu bagaimana yang kebetulan tidak punya?

Memilih Sp2 di FKK UGM

Tidak semua sentra pendidikan dokter spesialis anak menyelenggarakan Sp2 hematologi onkologi anak. Sampai dengan saat ini di Indonesia hanya ada empat universitas yang menyelenggarakan pendidikan Sp2 Hematologi Onkologi Anak yaitu FKUI, FKK UGM, FK Unair dan FK Unpad. Tentu saja karena masih sangat terbatasnya jumlah tenaga pengajar serta penunjang lainnya. Dengan berbagai pertimbangan pada akhirnya ada tiga pilihan yang rencananya akan saya pilih ketika itu yaitu FKUI, FKK UGM dan Unair.

Khusus untuk Unpad sengaja saya tidak memilih, hanya semata-mata adalah faktor jarak saja. Sedang kalau kembali kuliah di FKUI/RSCM akan memudahkan karena selain alumni juga telah memiliki tempat tinggal dekat RSCM. Sedang pilihan ke FKK UGM dan Unair juga faktor jarak yang akan mudah diakses dari tempat bekerja saya di Madiun. Untuk menjangkaunya di kedua kota itu saya cukup naik kereta dua jam sudah sampai. Dan jadual keretanya pun setiap saat juga ada dan banyak. Demikian juga kalau naik mobil juga cepat.

Persiapan segera saya lakukan. Apalagi saya telah bekerja lebih dari tiga tahun sebagai salah satu syaratnya. Juga test IELTS di Surabaya, Test bahasa Inggris ELPT di Unair, AcEPT UGM dan TPA serta PAPs di UGM saya jalani. Semua test saya siapkan dan ikuti karena setiap universitas mengharuskan menggunakan lembaga di institusinya masing-masing untuk syarat masuk. Jadinya saya harus wira-wiri ke sana ke mari. Sangat menguras tenaga, pikiran dan emosi. Dan tentunya juga kantong heeeeeeee.

Alhamdulillah semua dapat saya lalui. Hanya ketika harus mendapat rekomendasi dari ketua UKK dan dosen (konsultan) yang sesuai dengan minat, saya disarankan untuk masuk di FKK UGM. Dan saran itu sangat bagus menurut saya. Mungkin lo ya. Salah satu pertimbangan dari pimpinan UKK adalah untuk membagi sesuai jumlah kuota sehingga masing-masing merata demikian juga distribusi nantinya. Dan dengan demikian UKK juga bisa mengontrol serta kelak lulusannya bisa menyebar sesuai kebutuhan masing-masing wilayahnya, sehingga semua tidak menumpuk di kota-kota besar semua. Kasus menumpuknya dokter spesialis dan subspesialis di kota besar seperti sat ini harus menjadi pembelajaran yang baik bagi kita.

Tentu saja tanpa pikir panjang saya menyatakan siap ketika direkomendasikan untuk masuk di FKK UGM. Bukan berarti setelah mendapat rekomendasi langsung diterima, sama sekali belum. Rekomendasi baru merupakan salah satu syarat saja. Sedang syarat lainnya juga masih banyak. Kadang-kadang dalam menyiapkan saya awang-awangen. Bisa sampai apa tidak ya, karena begitu banyak syarat yang harus saya siapkan dan penuhi selain itu saya juga harus tetap bekerja melayani pasien. Dan prosedur test itu semua harus diikuti. Dan akhirnya saya dengan usaha maksimal siapkan semua persyaratan untuk masuk di Sp2 hematologi onkologi anak FKK UGM.

Dalam proses pendaftaran seperti saat ini sangat dimudahkan. Memang sudah dalam era digital. Semua proses masuk di Sp2 FKK UGM mulai pengumuman dan pendaftaran dilakukan secara online. Demikian juga universitas yang lain. Sesuai jadual pendaftaran Sp2 FKK UGM untuk semester genap kuliah periode Januari 2026 dimulai:

  1. Tanggal 1-19 September 2025 pendaftaran online.
  2. 10 Oktober 2025 Pengumuman Lolos Administrasi.
  3. 25Oktober – 7 November 2025 test akademik, test kesehatan dan wawancara masing-masing program studi.
  4. 5 Desember 2025 pengumuman hasil seleksi program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis.
  5. 8 Desember 2025 registrasi.
  6. 17 Desember 2025 kuliah perdana.

Tentu pembaca dapat membayangkan sendiri, ketika saya di samping bekerja menyiapkan syarat yang begitu banyak juga harus mempersiapkan dan mengikuti serangkaian berbagai macam test. Tentu saja saya harus mondar-mandir Madiun-Yogyakarta selama mengikuti test-test yang tidak dilakukan secara online. Untungnya Yogyakarta cukup dekat, sehingga tidak terlalu memakan waktu.

Dan perlu diketahui, setiap semester yang ingin masuk mengambil spesialis dan subspesialis di FKK UGM semakin lama semakin meningkat. Untuk semester genap ini saja ada sekitar 600 peserta yang mendaftar dan lolos test administrasi. Sedang yang diterima hanya sekitar 250 peserta dari berbagai program studi yang ada. Jadi yang diterima hanya sekitar 40 persen dari pendaftar setiap semesternya. Cukup kompetitif memang. Tak mengherankan minat yang tinggi masuk FKK UGM, selain usianya sudah tua juga program studi yang diampunya juga merupakan salah satu perguruan yang unggul di Indonesia. Tak mengherankan bila peminatnya juga selalu banyak.

Dan khusus divisi hematologi onkologi dan ilmu kesehatan anak juga salah satu yang unggul, dan salah satu sebabnya karena banyak dosen yang alumni dari Belanda. Malahan info sementara yang saya dapat bagi mahasiswa Sp2 nanti ada program khusus untuk mengambil dan praktik beberapa bulan di rumah sakit kanker di Belanda. Saya sendiri pernah sekolah di Belanda dan adik saya juga tinggal di Belanda (suaminya bekerja sebagai assistant professor di Delf University), tentu saja nantinya akan memudahkan kelancaran pendidikan saya. Apalagi penelitian dan pengobatan penyakit kanker di Belanda termasuk salah satu negara yang sangat maju.

Itulah pendidikan Sp2 yang akan saya ambil dan alasan saya yang beberapa waktu lalu saya jadikan bahan kuis saya di IG. Minta doa restunya ya!!!! Semoga saya bisa menjalani pendidikan lanjutan dengan lancar dan ilmu yang saya dapat segera dapat saya aplikasikan di tempat tugas saya nantinya. Nuwun.

Reading is a process of acquiring knowledge through writings, while writing is a process of combining knowledge to create readings.

– dr. Melati Arum Satiti, Sp.A, M.Sc –